Hingga kini jenazah wanita berjilbab berusia 20 tahun yang ditemukan di Jalan TPA DKI, Kampung Ciangir RT 02/02, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang masih terbaring di kamar mayat RSU Tangerang. Kepolisian Resor Kota Tangerang masih kesulitan mengungkap identitas gadis remaja yang ditemukan dengan luka gorok di leher, pada Sabtu 7 April 2012 lalu.

Menurut Kasat Reskrim Polres Tangerang Kabupaten Kompol Shinto Silitonga, guna mengungkap identitas korban, Polres Kota Tangerang menyebarkan foto wajah korban. Selain ditempelkan di setiap sudut keramaian, foto gadis berjilbab itu juga ditempel di jajaran polsek-polsek di wilayah Polres Kota Tangerang.

“Sejauh ini belum ada laporan warga soal kehilangan korban, sehingga kita sebarkan foto korban untuk mencari informasi mengenai identitas korban,” ujar Kompol Shinto Silitonga kepada VIVAnews, Selasa 10 April 2012.

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat yang mengenali jenazah itu untuk segera mendatangi Polres Kota Tangerang atau kamar mayat RSU Tangerang. Dengan disebarkannya foto tersebut, diharapkan warga yang merasa sebagai anggota keluarga korban dapat melapor.

“Jika sudah diketahui identitasnya, kami bisa memintai keterangan keluarga. Dari keterangan keluarga korban itu nantinya kami bisa segera menangkap dan mengetahui motif pembunuhan ini,” tuturnya.

Seperti diketahui, pada Sabtu 7 April 2012 lalu, warga Desa Ciangir digemparkan penemuan mayat gadis berpakaian rapi dan berjilbab dengan luka gorok di leher.

Ciri-ciri korban usia kurang lebih 20 tahunan, tinggi badan sekitar 155 sentimeter, berat badan sekitar 45 kilogram, kulit putih dengan rambut lurus sebahu, memakai baju warna hijau lengan panjang dengan kaus dalam warna putih motif bunga-bunga warna pink dan celana jeans warna hitam, mengenakan sepatu karet dan jilbab warna hijau.

“Kami berharap sekali, masyarakat bisa memberikan informasi dan melaporkan segala sesuatunya mengenai gadis dengan kematian tidak wajar ini. Informasi awal tentang korban tersebut merupakan titik pangkal dalam mengidentifikasi korban dan mencari motif kematian tidak wajar tersebut,” tutur Shinto.