Dewasa ini berbagai acara berita investigasi televisi menampilkan beberapa makanan yang sebagian besar dijual dengan harga murah namun ternyata mengandung zat yang berbahaya seperti pewarna tekstil, zat pengawet berbahaya, zat pemanis berbahaya, lilin, tawas, dan lain-lain. Kecurangan tak berhenti begitu saja. Demi menghemat biaya produksi dan memperoleh keuntungan yang lebih banyak, produsen nakal itu menggunakan bahan makanan yang tak layak pakai seperti ayam yang mati kemarin (tiren), cabai yang sudah busuk, tepung yang sudah kadaluarsa dan sebagainya yang kemudan dengan liciknya “disulap” menjadi makanan yang sudah matang yang sering sekali susah dikenali keaslian atau jaminan bahannya. Jika banyak orang mengatakan rasanya juga tak kalah enak dengan makanan yang lainnya, namun apakah Anda rela makanan tersebut masuk kedalam tubuh Anda dan orang yang Anda sayangi kemudian merugikan kesehatan dan menimbulkan penyakit yang biasanya muncul dalam jangka panjang.

Melihat tayangan tersebut tentu menimbulkan kewaspadaan bagi kita agar menghindari makanan tersebut. Namun, siaran beita televisi tersebut juga seolah memberi “pelajaran” bagi pedagang dan membangkitkan semangat untuk memperoleh untung dengan cara yang tidak lazim dan tidak halal. Berita tersebut biasanya juga menerangkan cara-cara pembuatan makanan dan minuman berbahaya yang sebenarnya relatif mudah untuk ditiru, walaupun setelah itu dijelaskan bagaimana tips untuk membedakannya dengan makanan lain yang sejenis namun terjamin keaslian mutunya.

Cara yang paling mudah memastikan makanan itu aman dan sehat untuk dimakan adalah memasaknya sendiri. Namun tentu saja dibutuhkan keahlian dan waktu luang khusus yang tidak semua orang memilikinya. Sedangkan bahan makanan saja sudah mulai dicurigai mutunya, misalnya pada kasus ayam tiren, cabai busuk, bumbu dapur berbahaya, tepung bekas yang masih dijual, campuran beras, dll. Pemalsuan makanan dan minuman ini kerap terjadi menjelang lebaran disaat harga kebutuhan pokok merangkak naik dengan drastis. Alasannya selalu klasik, himpitan ekonomi dan tentu saja demi meraih keuntungan besar.

Pertama-tama, Anda harus peka dengan bentuk, warna dan baunya. Jangan hanya karena murah, lalu Anda langsung membeli dan mengkonsumsinya. Anjuran berikut bukan berarti ajakan untuk membeli makanan yang mahal, namun untuk lebih waspada pada makanan yang murah sekalipun kita juga tetap siaga dengan makanan yang mahal.

Misalnya pada saus, bumbu dapur olahan dan makanan lain yang terlihat mencolok warnanya. Makanan dengan warna ini kemungkinan besar menggunakan pewarna tekstil yang berbahaya jika dikonsumsi. Pedagang menggunakan pewarna ini karena lebih murah sekaligus warna yang dihasilkan lebih “terlihat” dan menarik para konsumen terutama anak-anak. Selain warna yang “jreng”, pewarna ini akan membekas di tangan jika makanan tersebut kita pegang. Konsumsi makanan dengan zat warna ini akan menyebabkan kanker dan kerusakan organ hati.

Boraks yang biasanya dipakai untuk membuat adonan bakso menjadi kenyal setelah direbus dicirikan dengan kekenyalah dan tanda bekas gigitan akan kembali ke bentuk semula ketika digigit. Para pedagang beralasan menggunakan boraks sebagai pengikat daging ketika membentuknya ngkonsumsi makanan kaleng. Bentuk kaleng yang sudah penyok akan mengubah konsentrasi dalam kemasan karena kandungan botulimun (bahan dasar kosmetik). Anda juga harus waspada dengan penggunaan styrofoam atau melamin sebagai pembungkus makanan atau minuman panas. Jika kita mengkonsumsinya maka akan terkenan kanker. Selamatkan diri kita dari bahaya makanan ber zat kimia yang tidak aman bagi kesehatan. Usahakan untuk mengolah sendiri makanan untuk Anda dan keluarga. Pakailah bahan makanan yang terjamin kualitasnya. Semoga bermanfaat.