Kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) menembaki pesawat Trigana Air saat mendarat di Bandara Mulia, Puncak Jaya, Papua, Minggu 8 Maret sekitar pukul 08.30 WIT.

Akibatnya, pesawat Trigana Air itu pun hilang kendali dan menabrak rumah yang berlokasi di sekitar Bandara Mulia. Satu  orang dikabarkan meninggal dan 4 lainnya mengalami luka-luka.

Dari data yang berhasil dihimpun, kronologis kejadian bermula ketika pesawat Trigana Air PK-YRF mendarat di landasan  Bandara Mulia. Saat akan parkir di apron bandara, kelompok bersenjata yang jumlahnya lebih dari lima orang tiba-tiba menembaki pesawat membabi-buta. Pesawat lantas hilang keseimbangan dan menabrak bangunan.

Seorang yang meninggal akibat insiden itu adalah penumpang pesawat bernama Leiron Kogoya. Ia mengalami luka tembak di leher. Sementara keempat orang lainnya yang mengalami luka-luka adalah Pako Korwa (anak-anak, 4 tahun) yang terkena serpihan di jari tangan kiri, Yanti Korwa (ibu rumah tangga, 30 tahun) yang terkena serpihan di lengan kanan,  Beby Astek (kapten pilot, 40 tahun) yang terkena serpihan di mata kaki kiri, dan Willy Resubun (kopilot, 30 tahun) yang terkena serpihan di jari tangan kanan.

Juru Bicara Polda Papua AKBP Yohanes ketika dikonfirmasi membenarkan kejadian itu. “Pesawat Trigana Air ditembaki saat mendarat di Bandara Mulia Puncak Jaya. Pilot panik dan tidak bisa mengendalikan pesawat sehingga keluar dari landasan pacu dan menabrak bangunan,” kata Yohanes. Setelah beraksi, kelompok bersenjata itu kemudian melarikan diri ke dalam hutan yang berada di sekitar bandara. “Aparat gabungan TNI dan Polri masih mengejar para pelaku yang lari ke atas gunung di sekitar bandara,” ujar Yohanes.

Yohanes menambahkan, korban tewas Leiron Kogoya adalah wartawan Papua Pos. Saat ini anggota Polres Puncak Jaya masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara di Bandara Mulia, dan belum mengetahui motif penembakan tersebut.